Waktu itu tanggal 3 April 2009, dua hari lagi genap 38 minggu kandungan Mama yang kata dokter beberapa hari yang lalu ada sedikit masalah dengan kandungannya.  Calon bayi beratnya kurang,  padahal Mama sudah makan makanan yang sangat bergizi ditambah es krim untuk menambah berat badan.  Tapi hari itu Jumat 3 April ketika di USG lagi bayi masih 2,2 kg, dan yang membuat aku sangat takut adalah bahwa air ketubannya tinggal sedikit sekali di kandungan.  Dokter menjelaskan efek-efek kalau air ketuban sedikit dan kemungkinan-kemungkinan terburuknya.  Pikiranku tambah kacau, takut, kuatir dan pengin cepet-cepet selesai pemeriksaannya, karena kami sudah 3 jam menunggu dan lagi aku harus ujian Business Law di kampus.

“Nanti di CTG lagi ya Bu untuk memastikan analisa saya tadi. Kalau hasilnya bagus boeh pulang dan hari Senin harus ke Cipto untuk scan 4D untuk menganalisa lebih detail lagi.  Saya masih akan berjuang agar bayi lahir normal.” kata dokter Ekarini kepada Mama.

“Dok, kalau saya tinggal dulu gimana, saya ujian dulu sebentar terus nanti saya kesini lagi (walaupun aku yakin tidak akan bisa konsentrasi…:) )”  “Iya Pak, silakan tidak apa-apa kok, nanti kalau ada sesuatu Bapak saya telepon” kata dokter lagi.

Akhirnya istriku pun aku tinggal di Carolus untuk segera menuju ke kampus UGM tercintaku menjalani Final Exam Trimester 1 ku.  Sudah seperti yang aku duga, kalau aku ga bisa konsentrasi, selama 30 menit pertama soal hanya aku bolak balik saja, walaupun akhirnya aku temukan kata-kata untuk memulai proses “mengarangku”.
(more…)

Di Jepang semakin banyaknya wanita berkarir setelah melahirkan, sehingga partisipasi seorang ayah dalam membesarkan anak sangatlah diharapkan. Selama ini partisipasi itu dapat dikatakan tidak ada. Apalagi sekarang Jepang dihantui kekahawatiran menurunnya sumber daya manusia untuk beberapa tahun ke depan karena masyarakat semakin cenderung mempunyai anak sedikit少子化. Peta demografi jepang akan menjadi kerucut terbalik, dan ini akan memicu kenaikan pajak yang tidak terhindari.

Sekarang ada beberapa perusahaan yang memberlakukan “cuti membesarkan anak” 育児休暇 untuk wanita (ini sudah wajar, meskipun kadang kala harus rela melepaskan pekerjaannya) dan untuk pria (ini baru 0,5% padahal pemerintah bermaksud menjadikan 10% dalam 10 tahun). Saya sendiri sampai saat ini belum pernah bertemu dengan teman pria yang mengambil cuti membesarkan anak ini. Kalau teman wanita ada yang mengambil cuti 3 tahun  (profesinya guru). Ada teman pria yang tidak bekerja di kantor (wiraswasta) sehingga dia fleksible mengatur waktu dan membantu istrinya membesarkan anak.

Anyway, bagi ibu-ibu sendiri mungkin agak ragu (ngga enak juga tulis meragukan) akan kemampuan si suami untuk merawat anak. Apakah tidak lebih baik memasukkan anaknya ke penitipan anak saja, daripada menyerahkan bayinya pada seorang lelaki (wahhh gender deh). Tapi sekarang ibu-ibu bisa sedikit 安心 (merasa lega, aman) karena tahun ini tepatnya hari Minggu kemarin tanggal 16 Maret, telah diadakan suatu Ujian Kemampuan menjadi PAPA yang baik. Namanya 子育てパパ力検定 . (kalau sekilas kok terbaca パパバカ (papa bodoh) ya….hihihi).

Ujian ini biayanya 3900 yen, atau 7000 yen jika diikuti sepasang suami-istri. Diselenggarakan di Tokyo, Osaka dan 5 tempat yang lain, dan diikuti kurang-lebih 1000 orang. Wow….
Pertanyaannya ada 50 pilihan a,b,c,d dan karangan. Dan dari hasilnya akan diranking menjadi 4 tingkatan yang tertinggi 一級 (ikkyu) dinamakan SUPER PAPA, dan yang terendah DOKIDOKI PAPA (Papanya gemetaran hihihi).

Dasar orang Jepang suka banget yang namanya Ujian Kemampuan. Seperti yang pernah saya tulis di blog saya yang lain, Ujian Kemampuan di Jepang benar-benar beragam jenisnya, dan merupakan suatu kebanggaan jika bisa menuliskan banyak LICENSE/ sertifikat 検定 di curriculum vitae 履歴書. Sampai saya bingung waktu menuliskan CV saya, dan oleh suami saya diberitahu untuk menulis SIM A sebagai License/sertifikat saya, selain dari Ujian Kemampuan Bahasa Jepang 日本語能力試験. Waktu itu saya heran kenapa SIM  aja ditulis. Tapi memang untuk mencari pekerjaan di Jepang, terutama untuk bagian marketing punya SIM  akan lebih disukai. (Laaah aku ngga mau jadi supir  yeeee…)

Diambil dari tulisan Ibu Imelda di  http://imelda.coutrier.com

Apa itu HypnoParenting?
 
Hypoparenting terdiri dari 2 kata dasar yaitu hypnosis dan parenting.  Marilah kita bahas satu persatu secara singkat sehingga makna dari  HypnoParenting dapat dimengerti dengan benar.
 
Hypnosis di Indonesia masih dianggap sebagai satu hal yang dipenuhi misteri. Masih banyak yang beranggapan bahwa hypnosis  melibatkan kuasa kegelapan, atau suatu bentuk praktek supranatural.  Oleh karena itu tidak sedikit juga orang yang percaya bahwa hal yang berbau hypnosis harus dijauhi atau dihindari.
 
Ada juga yang berpendapat bahwa subyek yang di-hypnosis tidak bisa mengontrol pikirannya sendiri dan dalam kondisi yang sepenuhnya tidak sadar. Atau bahkan ada juga yang mengatakan bahwa kalau  sering di-hypnosis akan lupa ingatan dan mudah dipengaruhi oleh orang lain, atau bahkan mudah dimasuki “roh halus”. Baiklah sekarang kita akan membahasnya.
(more…)

Sebulan sekali Mama pasti mengajak kami untuk ke supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari, dan biasanya di hari Sabtu atau Minggu. Mungkin sudah menjadi kebiasaan Mama,  belanja perishable (sayuran, daging dan lain-lain yang tidak tahan lama) selalu di bagian akhir belanja. Nah… itu saya manfaat kan bersama Ivan untuk belajar banyak di stand perishable.  Ivan bisa belajar mengenal nama sayur-sayuran, buah-buahan, bermacam-macam ikan dan bermacam-macam daging.  Biasanya kalau dirumah Ivan hanya belajar dengan gambar atau menggunakan media VCD, menurut saya belum cukup karena dengan gambar atau VCD hanya dua sisi Visual dan Auditory.  Artinya Ivan hanya menggunakan indera penglihatan dan pendengaran.  Tapi kalau belajar di supermarket sisi Kinestetic Ivan juga bisa di asah, dengan cara meraba atau memegang benda yang sudah dilihat dan sudah di kasih tahu namanya. Mengapa ini saya lakukan, saya ingin mengetahui Ivan ini nanti lebih kuat di sisi  visualnya, auditorynya atau kinesteticnya.

 

Belajar pengenalan benda seperti yang saya lakukan ternyata sangat efektif buat Ivan dan sekarang sudah ketahuan kalau Ivan sangat menonjol di visualnya. Jadi lebih senang belajar atau beraktivitas kalau ada ‘gambarnya’.  Salah satu contoh yang sering terjadi adalah setiap mau tidur pasti Ivan selalu minta di cerita-in dulu.  Kalau kami tidak mau cerita dia mogok tidak mau tidur.  Kalau kami cerita hanya menggunakan karangan atau imaginasi kami dan di kami suruh mendengar cerita kita, pasti Ivan langsung protes, “Pa……ceritanya pakai buku donk…”.

“Ok…..!” saya menjawab sambil mengambil 2 buku cerita yang kami tempatkan di rak plastik samping tempat tidur tempat kami menyimpan 20 puluh lebih buku ceritanya Ivan. “Sekarang Ivan merem dan Papa bacain ceritanya ya….” Bujuk saya. “Ivan khan juga mau lihat gambarnya….” “Ya…udah..tapi dengerin ya…”

 

Lalu saya pun cerita, cerita tentang dua anak kelinci kembar namanya KIKI dan KIKO, mereka punya sifat yang jauh berbeda. Kiki rajin dan penurut, tapi Kiko malas dan jarang nurut ama orang tuanya. Waktu itu Kiki dan Kiko disuruh jaga rumah sambil membersihkan rumput di halaman karena bapak dan ibunya pergi ke sawah sampai sore.  Tapi Kiko hanya bermain saja dan tidak membantu Kiki, Kiko mengejar seekor belalang yang sedang melompat-lompat.  Tak sadar dia masuk ke dalam hutan dan tersesat di sana dan tidak bisa pulang sampai hari menjadi malam.  Banyak kejadian yag menimpa Kiko malam itu di hutan.  Dia mau di patuk ular dan ada serigala yang mau memakannya. Dia ketakutan sekali sampai menangis.

 

Sampai disitu tiba-tiba Ivan-ku menangis, “Hua…ha….ha….”. Saya kaget baget karena itu begitu tiba-tiba karena saya konsentrasi membacakan cerita itu. “Ivan kena apa?….Kok menangis…Papa khan udah baca ceritanya….Ivan dengerin donk….”

“Ivan sedih….” Jawab dia masih sambil menangis “Ivan sedih kena apa?” Tanya ku.

“Ivan kasihan ama Kiko…. dia khan ketakutan”

“Oooooo…oooo….itu…ya udah itu Kiko udah nyampai rumah…… dah dipeluk ama Bapak Ibunya”

“Karena Kiko dah nyampai rumah dia sekarang ngajak Ivan bobo. Mau khan di ajak Kiko bobo”

“Mau…”

Setelah itu tangisnya mulai berhenti dan pantatnya di tepuk-tepuk terus bobo dah……

 

 

Pernahkah anda mengalami ketika anak anda menangis dan anda bilang, “Cup…cup…… anak mama/papa sayang…… ga papa …ga usah nangis ya……nangisnya udah ya….”  Apa yang terjadi?

 ….. Benar… anak anda semakin kencang nangisnya.  Ini pun berlaku terhadap Ivan.  Dulu waktu kami belum memahami kami pun bingung bagaimana agar Ivan berhenti menangis.  Tapi waktu itu sama eyangnya, dengan sekali bicara langsung berhenti tangisnya. 

Mungkin anda pun sering melakukannya. 

Eyangnya Cuma bilang, “Van ….. keluar yuk … lihat odong-odong…tuh dia lewat.”  Selesai.  Tangisnya berhenti lalu Ivan bilang, “Mana eyang…odong-odongnya..yuk”. Orang tua kita memang tidak pernah belajar NLP (neuro linguistic programming) tetapi mereka melakukan jurus-jurus yang kebetulan saya pelajari di NLP itu.  Dalam rimba per-NLP-an namanya jurus “Memindahkan focus, menuai hasil” …..he…he … bukan ding…itu karangan saya saja.

 

Jadi menurut guru saya pikiran manusia itu fokusnya bisa dirubah sedikit saja tapi hasilnya dahsyat luar biasa, tetapi agak susah.  Akan lebih mudah kalau di sertai dengan merubah fisiologisnya.  Realnya bagaimana?

Ivan nangis sambil duduk dan mukul-mukul lantai, Eyang mengangkat dia, menggendong, dan menunjuk ke arah depan, sehingga kepala Ivan agak terangkat. Inilah perubahan fisiologis Ivan. Disertai dengan merubah focusnya dengan kalimat dahsyat itu. Jadi disini ada perubahan state of fisiologis dan state of mind. 

Nah…inilah yang saya sebut JURUS MEMINDAHKAN FOCUS MENUAI HASIL.

 

Ternyata simple tapi dahsyat luar biasa.

 

Keheranan saya dengan makluk Tuhan bernama Ivan tidak habis-habisnya seiring dengan bertambahnya usia dan perkembangannya.  Dia semakin pintar berimajinasi, semakin pintar mengarang cerita, semakin cepat menangkap kosa kata baik bahasa Indonesia, Jawa, Inggris maupun Sunda (maklum dulu pengasuhnya dari Sumedang).  Saya coba mencari tahu tentang pengetahuan perkembangan anak, dan akan saya sharekan di sini.

(more…)

Beberapa minggu yang lalu, setelah beberapa saat bangun tidur Ivan menarik-narik bantal sehingga jatuh ke lantai. Lalu mama bilang, “Van bantalnya biar diatas tempat tidur aja, kalau dibawah kotor.” Mungkin karena nada yang dipakai volumenya sedikit keras, maka Ivan pun bereaksi yang membuat kami berdua kaget.

(more…)

Berbagai penelitian membuktikan, bermain merupakan stimulasi efektif dalam menunjang tumbuh kembang optimal anak.  Dua orang psikolog, Jorome Bruner dan Brian Sutton-Smith, yang meneliti perkembangan aspek kognitif manusia mengatakan, bermain menghasikan atmosfer santai, sehingga anak lebih mudah belajar berbagai cara untuk mengatasi masalah yang ditemuinya ketika bermain.  Menurut keduanya, pada saat bermainlah anak sering terlibat dalam proses pemecahan masalah.

(more…)

Saya tidak tahu rata-rata anak balita tidak ngompol itu umur berapa tahun.  Yang jelas Ivan sudah  tidak ngompol lagi di celana maupun di kasur sejak umur 1 tahun 3 bulan. Ada cara praktis agar Ivan berhenti ngompol, dan itu saya dan mama sudah lakukan sejak Ivan berumur 9 bulan.  Mungkin anda sudah mengerti benar saat anak anda masih bayi, kalau malam ngompo l pasti dia menangis dan saat itu anda sedang tertidur lelap.  Mau tidak mau anda bangun.  Itulah cara anak kita memberi tanda kepada kita bahwa dia ngompol.  Kalau dia tidak memberi tanda (dengan menangis) tentu anda masih tertidur dengan nyenyaknya mengikuti mimpi indah anda. 

(more…)

Hypnoparenting adalah suatu program pembelajaran dan pendidikansecara sistematis bagi orangtua dengan harapan para orangtua bisa mendidik anak dan membesarkannya dengan lebih profesional. Lo kok profesional? Begini, sebagai orangtua kita melakukan tugas yang tidak ringan namun sayangnya bekal kita untuk mendidik dan mengasuh sang buah hati sebenarnya relatif minim. Umpama, kita hanya mengandalkan pengalaman saat dididik dan dibesarkan oleh orangtua kita dulu. Padahal belum tentu pola pengasuhan tersebut pas untuk diterapkan pada si kecil di zaman ini. Idealnya anak justru kita perlakukan sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orangtua kita dulu. Dengan begitu tindakan yang kita lakukan atas dasar perasaan seorang anak. Bukan atas dasar perasaan kita sebagai orangtua.
(more…)

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.